piece smile

fingers began to knit. . .

thought began to wander. .

time images of work. . .

start word is flawless. .

opening sentence without suffering,. .



Look !!!!!

I still I could never move slightly

change destiny

or fly with wings of desire. . .



only you. . .
spirit that is in this

rays radiated charm

I encourage this in any pain. . .



I want to run away from what is

or free from the heart imprisoned

but. . .

what my power ?????????



I want to say NO!!

according to my pa said. .

I wanted to rebel over what happened. .

but. .????? I can not!



Sorry. . .

sorry for my indigo Wherever do

sorry for my blunder that pobud chisel. . .

just a piece of my smile had a distinguished

upon exposure to storm my life who live. . . : '(

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

apa kau sahabatku??????


meski malam tak berangsur memudar. . .
gelap tak berubah jua. . .
panas dahaga tak perrnah bertepi. . .
namun, kau slalu ada dalam benak sanubari. .

kau bagai mentari yang senantiasa hangati hari - hariku
bagai payung yang slalu sedia temani basah kuyupku
atau.. . seperti buku yang memberiku ilmu
bahkan kau seperti malaikat dalam hidupku

temani hari - hari yang tlah kurasa kelam dan tak berarti lagi
memberikan secercah sinar harapan yang telah lama tak kurasa
tempatku sandarkan segala peluh kesah yang menggunung
namun,. . tak pernah ada secuil rasa jerah dalam kalbumu. . .

namun. . .
hari tlah berganti
masa - masa itu tlah lama sirna. . .
lambat laun jadi tak berarti lagi

kau ubah sgala pandanganku atas nama sahabat
kau khianati janji yang tlah lama terucap
kau ambil dia dalam cengkramanku
kau peluk dia saat aku mulai berharap padanya, dan kau tau itu!

entah!!!1
apa yang ada dalam fikirku kala itu
antara kau dan dia
apa aku tahan akan smua derita ini?????

hatiku menangis, menjerit atas apa yang terjadi
luka yang ku kira hilang ternyata kau tumbuhkan lagi!
aku tak pernah menyangka akan smua ini
tak pernah!!!

apa aku terlalu buruk untuk dapatkan bahagia???
apa aku terlalu jahat untuk sekedar harapkannya???
adilkah ini untukku???
lalu, apa kausahabat untukku????

jika memang kau sahabatku,
lantas mengapa kau sakiti aku di saat aku mulai percaya akan buah bibirmu
percaya akan semua ungkapan omong kosong itu????
Entahlah. . . !!!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

NYANYIAN SUKMA

Di dasar relung jiwaku Bergema nyanyian tanpa kata;

sebuah lagu yang bernafas di dalam benih hatiku,

Yang tiada dicairkan oleh tinta di atas lembar kulit ;

ia meneguk rasa kasihku dalam jubah yg nipis kainnya,

dan mengalirkan sayang, Namun bukan menyentuh bibirku.

Betapa dapat aku mendesahkannya?

Aku bimbang dia mungkin berbaur dengan kerajaan fana

Kepada siapa aku akan menyanyikannya?

Dia tersimpan dalam relung sukmaku

Kerna aku risau, dia akan terhempas

Di telinga pendengaran yang keras.

Pabila kutatap penglihatan batinku

Nampak di dalamnya bayangan dari bayangannya,

Dan pabila kusentuh hujung jemariku

Terasa getaran kehadirannya.

Perilaku tanganku saksi bisu kehadirannya,

Bagai danau tenang yang memantulkan cahaya bintang-bintang bergemerlapan.

Air mataku menandai sendu

Bagai titik-titik embun syahdu

Yang membongkarkan rahsia mawar layu.

Lagu itu digubah oleh renungan,

Dan dikumandangkan oleh kesunyian,

Dan disingkiri oleh kebisingan,Dan dilipat oleh kebenaran,

Dan diulang-ulang oleh mimpi dan bayangan,

Dan difahami oleh cinta,

Dan disembunyikan oleh kesedaran siang

Dan dinyanyikan oleh sukma malam.

Lagu itu lagu kasih-sayang,

Gerangan ‘Cain’ atau ‘Esau’ manakah Yang mampu membawakannya berkumandang?

Nyanyian itu lebih semerbak wangi daripada melati:

Suara manakah yang dapat menangkapnya?

Kidung itu tersembunyi bagai rahsia perawan suci,

Getar nada mana yang mampu menggoyahnya?

Siapa berani menyatukan debur ombak samudra dengan kicau bening burung malam?

Siapa yang berani membandingkan deru alam, Dengan desah bayi yang nyenyak di buaian?

Siapa berani memecah sunyi

Dan lantang menuturkan bisikan sanubari

Yang hanya terungkap oleh hati?

Insan mana yang berani melagukan kidung suci Tuhan?

(Dari Kahlil Gibran - ‘Dam’ah Wa Ibtisamah’ -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS


Menyikapi Aksi Pembakaran Alquran di Florida (Peringatan Tragedi 11 September)



Dove World Outreach Center, sebuah gereja di Gainesville, Florida, AS, rencananya akan menjadi tuan rumah “Hari Pembakaran Al Quran Internasional” dalam memperingati 9 tahun tragedi serangan 11 September 2001 atau yang lebih dikenal dengan kejadian WTC. Sumber: X. Gereja ini bahkan telah mempromosikan peringatan tersebut di website dan situs jejaring sosial milik mereka. Sumber: W. Menurut Pastor Terry Jones, yang belum diketahui secara pasti berasal dari Aliran Kristen apa ini, Islam adalah setan, yang menyebabkan jutaan orang masuk neraka. Itu adalah agama menipu, itu adalah agama kekerasan dan itu terbukti (Lewat Peristiwa WTC). Sumber: X.

Kemungkinan Sikap Pemerintas AS atas Aksi Pembakaran Alquran

Meski menentang rencana pembakaran Al Quran oleh sekte Dove World Outreach Center di Florida, pemerintah Amerika Serikat tak bisa melarangnya. “Menurut konstitusi kami, semua orang punya hak mengekspresikan pendapat dia sendiri,” kata Asisten Atase Kebudayaan di Kedutaan Besar Amerika Serikat Arend C. Zwartjes, di Bandung, Kamis (2/9). Sumber: Z.

Menurut Arend, negaranya memiliki dua kebebasan, yaitu beragama dan mengekspresikan diri. Dia mengakui diantara dua kebebasan itu akan muncul konflik. “Mungkin kalau di Indonesia pemerintah bisa campur tangan, tapi di Amerika dilarang,” ujarnya di sela diskusi tentang Islam di Amerika di perpustakaan Institut Teknologi Bandung, Kamis (2/9).Sumber: Z.

Campur tangan pemerintah atau kepolisian, kata Arend, dimungkinkan jika sekte tersebut melakukan tindak kekerasan. Saat ditanya apakah pembakaran kitab suci termasuk kekerasan atau bukan. Arend mengaku tidak tahu. “Saya bukan pakar hukum dan tahu hukum di Florida,”katanya. Sumber: Z.

Apa yang disampaikan Arend di atas, bahwasanya kemungkinan pemerintah AS tidak akan mengangkat kasus itu (pembakaran Alquran) ke masalah hukum, bukanlah tanpa dasar, karena ini mengacu dengan demokrasi liberal yang ada di AS. Demokrasi liberal (demokrasi konstitusional) AS, sebagaiman telah sedikit disinggung oleh Arend, memiliki perbedaan dengan sistem demokrasi pancasila yang dianut oleh Indonesia.

Sebagai tambahan, demokrasi liberal adalah sistem politik yang melindungi secara konstitusional hak-hak individu dari kekuasaan pemerintah. Adapun demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang berdasarkan kekeluargaan dan gotong-royong yang ditujukan pada kesejahteraan rakyat, yang mengandung unsur-unsur berkesadaran religius, berdasarkan kebenaran, kecintaan dan budi pekerti luhur, berkepribadian Indonesia dan berkesinambungan, atau dengan kata lain demokrasi Pancasila tidaklah bersifat mutlak melainkan harus diselaraskan dengan tanggung jawab social. (diolah dari pelbagai sumber)

Sikap Umat Islam atas Aksi Pembakaran Alquran (masih sedang saya pelajari dan saya kembangkan)

Mengetahui kemungkinan pemerintah AS tidak akan mengambil kebijakan hukum atas aksi pembakaran Alquran, lalu yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana dengan sikap umat Islam, khusus yang di Indonesia atas aksi tersebut?

Menyikapi aksi pembakaran Alquran oleh beberapa umat Kristen di Amerika Serikat, maka penting akan dua hal: pertama, demokrasi liberal, dan kedua, agama dan penganut agama.

Pertama, demokrasi liberal, sudah dijelaskan di atas, dengan demikian umat Islam jangan tersulut atau terpancing dengan melakukan tindakan-tindakan anarkis, sehingga justru akan merembet kemasalah yang lebih besar. Juga, umat Islam, khususnya yang ada di Indonesia tidak lantas kemudian melakukan aksi pembakaran Injil dengan alasan yang sama seperti di AS, ini demi menghormati demokrasi pancasila sekaligus menghormati umat Kristen yang ada di dunia yang juga mengecam adannya tindakan aksi pembakaran Alquran. Dengan demikian, caranya kemungkinan, umat Islam sepertinya dalam menuntut pemerintah AS lebih diarahkan kepada kebijakan moral, karena apabila memaksanya di wilayah hukum kayaknya lumayan sulit.

Kedua, agama dengan penganut agama adalah beda. Agama, khususnya Islam dan Kristen, di masing-masing kitab yang menjadi pedomannya, tidaklah mengajarkan untuk melakukan kekerasan kepada agama lain, namun justru agar mengasihi. Sedangkan penganut agama adalah seseorang yang sedang mempelajari agamanya, dengan membawa kepentingan-kepentingan yang berbeda-beda. Ada penganut beragama yang benar-benar serius dengan agamanya sehingga benar-benar mendalami agamanya sendiri karena keikhlasan atas kepercayaannya, adapula yang terlihat serius mendalami agamanya sendiri hingga menjadi tokoh agamawan namun membawa kepentingan (politik) pribadi yang merusak agamanya sebagaimana yang dilakukan oleh pemuka agama dalam mendorong aksi pembakaran Alquran, dll. Memahami ini, maka yang penganut suatu agama dikatakan oknum bukan agama. Dengan demikian, umat Islam Indonesia dalam mengambil tindakan jangan sampai merusak toleransi atau kebhinekaan yang mulai terbangun, karena Islam melarang kejahatan dibalas dengan kejahatan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

My Shoulmate, “Mya”


“Pagi Mya....” ucapku pada sahabatku, ucapan itu hampir setiap pagi ku ucapkan.
“Pagi juga... Eh iya, udah ngerjaen PR kimia hal : 43, lom?”
“Kimia yach? Udak koq... low qm?” tanyaku.
“Udah juga... Ehmm.... qt cocokin yuck?”.. ajak Mya.
Kemudian kami pun saling mencocokan jawaban dari nomor ke nomor.

Itulah sepenggal aktivitas yang sering kami lakukan setiap pagi, saat kami bertemu dikelas. Hampir setiap anak iri pada kedekatan kami. Ada yang bilang, kami tuch ‘Lesbian lah’, ‘Sahabat Karib’, ‘Sehati’, Sejantung’, dan masih banyak lagi. Setiap hari, setiap waktu, bahkan setiap detik kami selalu berbagi, berbagi suka maupun duka. Namun pagi ini semuanya berbeda . . . . .

“Pagi Mya...” ucapku. Tak ada suara yang menjawabku.
“Mya koq diem? Ada apa? Kamu sakit yach?” tanyaku dengan perasaan khawatir.
“Eh.. maaf, aku tadi nggak denger. Ngga koq, aku nggak sakit. Aku nggak apa-apa. Tenang ja Jenk...” jawab Mya dengan sedikit gugup.
“Bener????” tanyaku ragu.
Dia hanya membalasku dengan senyuman. Namun aku tahu, senyum Mya merupakan simbol bahwa ia tidak apa-apa. Dan senyuman Mya selalu buatku tenang, damai dan nyaman.

“Ya udah kalau gitu. Oia kata kakak kelas, ntar qt pulang pagi loch..!! Ehm... qt jalan yuck?.. kan udah lama nggak jalan bareng?” tanyaku merayu.
“Tya, 2 hari yang lalu, qt kan udah jalan ke mal. Masa’ ntar harus jalan lagi?” jawabnya pelan namun tegas.

“Ah Mya kq gitu sich?kan mumpung ada kesempatan?mau yach? Pleasee...!!!” ucapku sambil memohon.
“Sorry... kali ini aku bener-bener nggak bisa. Maafin aku Tya.” Ujarnya dengan wajah pucat.
“Mya, qm sakit??? Nggak biasanya qm seperti ini? Kamu sakit yach??? Wajah qm pucat bangetzz?” tanyaku.
Aku sangat khawatir dengan Mya, shoulmateku.
“Aduh Tya... aku tadikan udah bilang,low aku nggak apa-apa, aku nggak sakit n’ aku nggak suka low qm tanya itu lagi.Oke..!!” jawab Mya, kethus.

Kemudian ia pergi meninggalkan aku. Meninggalkan aku dengan sejuta tanda tanya besar dalam benakku. Aku tak mampu berkata – kata, bibirku seakan – akan terkunci rapat. Aku masih tak percaya. “Mya”, sahabatk, tega berkata sekasar itu padaku. Aku tak percaya, sungguh sangat tak percaya.

Pelajaran demi pelajaran terlewatkan tanpa ada sedikitpun kata yang terucap ataupun seulas senyum yang sering Mya berikan untukku. Hari ini aku sangat kecewa pada Mya. Sangan kecewa.Namun keesokan harinya, aku tak kuasa memendam rasa ini berlarut – larut, akhirnya kuputuskan untuk menghubungi Mya. Kuraih Hp-ku, ku telepon dia. Namun yang ku dengar hanya suara operator. Hp Mya nggak aktif. Perasaanku semakin kacau, tak katuan.

“Ada Mya masih marah sama aku?” Gimana nich??? Ehm. . . apa aku kerumahnya saja?” kataku dalam hati. Akhirnya kuputuskan kerumah Mya, sahabatku.
Dengan sejuta pertanyaan yang masih berkecamuk di pikiranku, ku tancap gas dengan berkecepatan maksimum. Yang ada di pikiranku hanya “Mya”. Akhirnya kutemukan alamat rumah Mya. Agak susah sich, karna ini adalah pertama kalinya aku ke rumah Mya. Meskipun aku masih ingat benar janjiku pada Mya untuk tidak akan pernah ke rumahnya meski apapun yang terjadi. Ku langkahkan kaki secara perlahan namun pasti.

“Assalamu’alaikum. . . . . “ ucapku.
Namun, hening. . .
Ku ucapkan lagi, “assalamu’alaikum. . . “ tak ada perubahan.
“Assalamu’alaikum. . . . “ tetap saja.
Ku ulang hingga berkali – kali, namun tetap saja, ‘Hening’. Lalu ku putuskan untuk kembali, namun ketika baru saja beberapa langkah ku berjalan, tiba – tiba . . .
“Maaf nenk, enenk ini temennya Mya??” tanya seorang wanita paruh baya.
“Iya bu, Ibu, Ibunya Mya??” tanyaku kemudian.
“Oh bukan nenk, saya ibu kstnya Mya, tapi Mya udah ibu anggap kaya’ anak sendiri nenk. Maaf nenk, ibu harus pergi. O iya nenk, ibu sampai lupa, Mya nitipin surat buat nenk sebelum ia pergi. “ kata ibu itu dengan wajah sayu seolah ingin menangis.
Lalu ibu itu memberikan surat tsb. Kepadaku. Aku tak sempat bertanya lebih dalam lagi, karna rasa penasaranku dengan isi surat itu lebih besar. Dengan berjuta – juta pertanyaan, akupun pulang dan berharap segera menemukan semua jawaban di dalam surat beramplop biru muda.

Sesampainya di kamarku, ku rebahkan tubuh lemasku dan ku baca surat biru muda itu dengan rasa penasaran yang menggebu – gebu.



Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Tya sahabatku. . . .
Tya, aku yakin dan bahkan sangan yakin bahwa kamu pasti akan mencariku di alamat yang pernah aku berikan padamu. Trima kasih Tya, karna kamu mau menjadi sahabatku. Menjadi pelipur lara di saat sakitku, menjadi penerang dalam gelapnya hidupku, menjadi penyejuk dalam dahagaku.

Tya, maafin aku atas apa yang telah aku lakukan padamu kemarin. Aku telah membuat kamu kecewa dan sakit hati. Maafin aku Tya, maafin aku. Tya. . . aku merasa bahwa aku tak pantas menjadi sahabatmu. Aku pendusta Tya, aku pembohong.. . . . . Tya . . aku tak sebaik yang kau kira slama ini

Andai saja hari itu tak terjadi, mungkin saat ini, aku masih bisa bersama dengan kedua orang tuaku dan adikku. Tya , semalam aku sendiri, aku melawan segala kenyataan hidup ini sendiri. Tanpamu, Tya. Namun apa dayaku, aku hanyalah seorang gadis yang lemah, yang tak kuasa menentang takdir yang telah di gariskan oleh Tuhan untukku.

Tya. . . . jika kamu ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padaku, sekarang juga pergilah ke jalan Anggrek no. 147, aku menunggumu di sana.




Dariku, sahabatmu,




Mya



Setelah membacanya, aku langsung menuju alamat yang tertulis di sana. Namun sesampainya disana, yang kulihat hanya 4 buah gundukan tanah merah yang satu di antaranya masih baru. Di atasnya tertuliskan nama ke dua orang tua Mya, adiknya dan. . . . . “MYA”. Aku tak percaya dengan semua ini. Tanpa ku sadari, tubuhku melemas dan akupun tak sadarkan diri.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ploso, 28 Juni 2010




Aku tlah lelah tuk terus menapaki jalan ini
Begitu penat ku rasakan. . .
Hingga tulang – tulangku enggan tuk tegak


Sinar mentari yang dulu kurasa hangat
Kini tlah berubah sedingin salju
Jalan yang kurasa penuh dengan CINTA
Kini berubah menjadi KECEWA


Wahai angin. . .
Bisikanlah padaku apa yang terjadi
Katakan padanya rasa itu
Secuil masih tersimpan dalam lubuk hatiku

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ploso, 03 Juli 2010
Bertahan . . . . . .


Biarlah kini kau melupa akan bayangku
Terpaku oleh jeritan merdu diluar sana,
Aku pasrah

Kan kurelakan kau kucilkan tubuh ini
Meski hati kerap meronta,
Aku ikhlas

Berjuta kasih yang kuberi
Tak kan pernah buatmu menoleh
Menengok akan cinta ini

S’panjang hari yang kulalui
Berjuta kilometer kaki ini tertatih
Tak kan sirna namamu disini

Sedetikpun tak pernah kau peduli
Hingga butiran darah menetes,
Kau tetap terdiam

Haruskah ku bunuh cinta ini?!????
Berlari tuk menjauh?
Atau. . . haruskah ku bertahan????

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ASTAGHFIRULLAH, YA RABBI

Goresan fajar menyongsong bumi, seolah membawa sabda langit bagi jiwa – jiwa yang suci, jiwa – jiwa pecinta syar’i untuk memulai kehidupan, merenda masa depan dengan ukiran harapan dan impian.
Subbhanalla, . . . indahnya dunia ini tiada tara. Kicauan merdu burung – burung yang mendayu – dayu bak pembuluh rindu turut ramaikan suasana ini. Desauan angin lembut memecah kehangatan sinar mentari pagi. Dendangan adzan Shubuh telah cukup lama di kumandangkan, sehingga geliat kehidupanpun kembali menyapa.
Pagi itu di salah satu koridor SMANIS, . .
“Assalamu’alaikum” Sapaku seraya kutebarkan seulas
senyum.
“Wa’alaikumus salam.”
“Kunaon atuh Uhti Isma aya didiek? Naha ente di kelas
wae atuh?”
“Idih si eneng, . Isma mah kagak ngerti. Eneng sich pakai logat sunda. Isma jadi bingung atuh. Ini mah Ploso neng, sanes Bandung.”
“Hampura atuh neng. Eh, . . si eneng nggak ke kelas? Kunaon atuh?” Tanyaku sambil tertawa melihat sahabatku yang cemberut karna tak mengerti apa yang tlah ku ucapkan.
“Idih, . . jangan cemberut donk, .?!? Jelek tau, . . Tersenyumlah, karna senyum termasuk ibadah loch. .?” Ucapku lagi seraya mengusir kesunyian koridor sekolah yang menurutku penuh akan tanda tanya.

“Idiiih, .. Isma nggak cemberut ke eneng. Tapi tu lihat, . . . yang di dekat kamar mandi. Tahu nggak? Di samping kelas kita itu?” Tanyaku penuh kegamangan.
“Yups, kamu bener.”
“Astaghfirullah, . . jilbabnya di lepas?!??” Bukankah Bapak Ibu Guru telah tahu kalau dia pakai jilbab?!?”
“Tak tahulah aku. Eneng tanya saja sendiri. Lagipula semua itu sudah menjadi hal yang biasa. Eneng kagak usah kaget.”
“Loch?!? Bukankah dia anak Pak Haji Akbar?!? Umi dan Abinya punya kufu’ paling tinggi bdi desa kami. Banyak orang yang mengatakan, Umi dan Abinya adalah orang yang paling alim.” Tuturku panjang lebar
“A-L-I-M ???? Maksud eneng, ALIRAN MALING?!?”
“Hust, . . pamali’ atuh neng. Si eneng nich sampai segitunya, . .”
-------
“Duhai kekasih pujaan hatiku. Tidakkah kau ketahui hatiku hancur bercecer, pilu tak terkira? Mengapa engkau pergi meninggalkan kehidupanku? Mengapa hanya bayangmu yang kau tinggalkan untukku? Bayangan yang senantiasa menggoda syahwatku, menggores pilu dalam qalbu. . Ya Allah, Engkau yang memberi rasa cinta di hati insan yang lemah ini. Hamba mohon ya Allah, kembalikanlah dia untukku. . . Oh my darling, I LOVE YOU. . .”

“Isma. . . Fahmi itu lagi apa? Aneh – aneh aja sich tu anak?” Tanyaku sambil menahan rasa gelu karna mendengar alunan puisi dari Fahmi.
“Biasalah, . . si tukang onar.”
“Duhai kawanku, MOCH – HAM – MAD FAHMI. Alangkah indah nian bait puisi yang tlah kau lontarkan. Alangkah merdu alunan suara yang kau dendangkan. Hingga lihatlah, . . . para kecoapun lari terbirit – birit, enggan tuk dengarkanmu. . ”
“Ha ha ha ha ha, . . . . ”
Gelak tawa teman – teman yang lainnyapun meledak, menyaksikan syair dari seorang Isma. Raut wajah Fahmi yang tadinya berbinar – binar bak intan permata langsung redup dan memerah.
“Ayo neng,. . ..” Ajak Isma sambil meraih tanganku, mengajakku keluar, dan lari terbirit – birit.
“Uhti Isma kenapa?” Tanyaku, setelah kami berhenti tepat di depan perpustakaan.
“Eneng nggak ngerti? Isma mah takut di kejar sama si Fahmi.”
“Sama aak Fahmi aja takut? Huh. . .” Ucapku seraya membenahi tatanan pelengkap baju taqwaku.
“Eh neng, . . Lihat itu. . Itu loch yang itu.” Kata Isma seraya berusaha menunjukkan padaku apa yang telah memikat pandangannya.
“Astaghfirullah. . .. “ Hanya istighfar yang sanggup keluar dari bibir mungilku. Betapa tidak ?!? Andai engkau yang menyaksikan adegan dihadapan kami, niscaya kalianpun akan sependapat denganku. nYa Khalikul Alam, apakah ini tanda berakhirnya roda kehidupan?!?
Lalu kubiarkan kedua telapak tanganku menghalangi pemandangan yang menurutku tak layak dilakukan oleh anak seusiaku, terlebih lagi mereka adalah adik kelas kami!!!
“Isy hadza? Musma’qul?” Ucapku kesal.
“Wih, . . . enak buanget, . . Pacarnya juga satu sekolah, . .”
“Astaghfirullah, . . Apanya yang enak?”
“Ya enak donk, . metode pacarannya terbilang irit bin hemat.
Eneng bayangin yach. . . Kalau pacar kita itu satu sekolah sama
kita, otomatis hemat pulsa. Tak perlu sampai ada rasa rindu yang
mengakar di dada. Tiap hari bisa ketemu, nggak usah repot – repot cari tempat buat pacaran, sekolah sudah menyediakan loch?!? Mau jalan – jalan tinggal keliling sekolah, mau ke taman tinggal ke
depan, mau ke cafe tinggal ke mbak Mur, mau lebih hemat lagi?
Ya,. . tinggal bontot aja, di makan berdua sambil, . . . “ Ismapun menghentikan kata – katanya.
“Kenapa nggak di terusin?!?”
“Nggak ah, . . ntar si eneng malah kepingin lagi?!?” Jawab Isma di iringi gelak tawa yang memecah.
“Kepingin?!? Eleh – eleh, . . pamali’ neng. Amit – amit dech, . . .”
“Alah. . . jangan gitu atuh neng.”
“Astaghfirullah. . . sadarkanlah sahabatku ini ya Allah. . .”
“Idih si eneng, baru ciuman aja udah nyebut berulang – ulang? Apalagi yang lain?!? Yang begituan mah udah biasa – biasa aja atuh.’
“Jadi menurut uhti Isma, ini semua wajar? Biasa – biasa gitu?!” Tanyaku.
“Iyalah,. . Zaman udah berubah, sekarang bukan zamannya
Siti Nurbaya, hidup di kekang, jodoh di tentukan. Tapi kita bebas. Buktinya kan udah jelas. Di lingkungan sekolah saja meraka udah berani pacaran, pakai seragam super seksi, apalaggi di luar sana?!?”

“Iya, . eneng tahu, tapi kita di beri kebebasan bukan berarti kita bebas tanpa ada peraturan yang emmbatasi kita. Apalagi syariat – syariat islam sangat menentang semua itu. Ada Al – Qur’an dan Al = Hadits yang wajib kita gunakan sebagai pedoman hidup.’ Tuturku sambil berjalan menyusuri koridor sekolah menuju pintu gerbang.
“Itukan menurut pandangan uhti? Tentunya menurut pandangan meraka sangat berbeda.’ Ucap Isma tak mau kalah.
“”Jadi, pada titik akhirnya, eneng setuju dengan sikap mereka?” Tanyaku ketika kaki kami hendak menuruni anak tangga yang tak seberapa di samping kelas X-6.
“Setuju? Nggak-lah, nggak setuju buangetz,. . Isma masih inget nasihatnya Bapak Nine Adien Maulana tentang pacaran. Ogah dech, . . mending nggak pacaran dulu. . “ Ucapnya sambil menggelengkan kepala.
-------
Irama nyanyian alam mendesah syahdu, mengalun lembut dan meresap ke dalam qalbu. Menghantarkan jiwa manusia untuk mengakui ketidakberdayaan dirinya, mengagungkan namanya, mensyukuri nikmatnya dan merenungi kenaiffannya. Alunan suara adzan yang mendayu – dayu semakin mengingtakanku akan kenaifan dan ketidakberdayaanku. Aku hanyalah setitik zahra di padang masyar yang kan lenyap oleh amukan badai shanum. Aku bukanlah hamba yang suci Maha sempurna.

Aku duduk bersimpuh, menengadahkan kedua tanganku, memohon ampun atas semua kekhilafanku slama ini. Tanpa kurasa butiran – butiran mutiara air mata berderai dengan indahnya.
“Ya Allah, ya Khalik yang Maha tinggi. . Tanpa kebesaran kekuasaan-Mu, tak mungkin hamba dapat menikmati indahnya karunia-Mu. . . Tanpa Hidayah-Mu, kami hanyalah hamba yang lemah, hamba yang fakir.
Ya Allah. . . ku bersimpuh mengdu pada-Mu akan peliknya hidup ini. . Ya Allah ku hanya seorang hamba yang tak mempunyai kesempurnaan dalam segi apapun, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik-Mu. Hanyalah kepada-Mu ku panjatkan syukur yang tiada pernah terukur.
Ya Rabb. . Kau tlah menganugerahkan sebongkah hati untuk umat-Mu. Hati untuk menilai dan menimbang akan kemungkaran dan kebajikan.
Ya Allah, Tuhanku yang Maha Agung, . .
sungguh tersayat pilu rasa hatiku kala itu. .
Tatkala kedua bola mata yang Kau ciptakan
hanya untuk memandang kebajikan tertuju
pada pandangan syahwati. Ya Allah, . .apakah
hamba sebagai khalifah di bumi ini hanya
mampu bertopang dagu menyaksikan
kemungkaran yang semakin merambah ini?!?
Astaghfirullah. . .
Apa yang harus hamba perbuat ya Allah?
Hamba bukanlah manusia yang berkuasa. Yang bisa hamba lakukan hanya duduk bersimpuh memohon pada-Mu. Ya Allah. . . ku akui, hamba bukanlah ahlul mesjid yang hati dan jiwa mereka tlah terpatri oleh istana-Mu. . Hambapun tahu, tak sepantasnya kupinta sebuah nirwana untuk semua yang tlah kulakukan slama ini.
Ya Allah, Ya Rabb. . . mungkinkah kami akan terperosok kembali ke zaman jahiliya? Ataukah ini adalah sebuah pertanda? Pertanda akan rapuhnya bumi sebagai pijakan manusia? Akankah dalam kurun waktu dekat ini dia akan berhenti berputar, terperosok ke jurang dan hancur berkeping – keping bersamaan dengan para penghuninya?
Ya Allah. . . ya Rahman, Ya Rakhim. . Dengan rasa cinta hamba pada-Mu, ku mohon berikanlah secercah hidayah-Mu bagi kami. Sadarkan kami di saat kami lalai, hingga kamipun tak terjerumus lebih dalam lagi. Ya Allah. . . hamba hanyalah hamba-Mu yang fanah, hamba yang penuh bercucuran dosa. Namun ku mohon ya Allah perkenankan hamba tuk bersimpuh memohonkan ampun atas dosa – dosa hamba dan dosa – dosa para muslimin dan muslimat. Bukalah pintu nurani kami, dan tuntunlah kami kejalan yang Engkau ridhai.
Amien, . .


----the end----

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tes Kemampuan Akademik

Tempat dan Waktu
Hari:Senin
Tanggal:14 Juni 2010
Tempat:GOR PERTAMINA-UB(Belakang Gedung Samanta Krida)
Universitas Brawijaya, Jl. Samanta Krida Malang
Waktu:Jam 09.00 WIB s/d Selesai.
Perlengkapan yang harus dibawa peserta :
  1. Kartu Peserta
  2. Kartu Identitas (KTP/SIM)
  3. Ballpoint, Pensil 2B, Penghapus, Rautan Pensil
CATATAN
  • Peserta diharapkan hadir 30 menit sebelum tes dimulai
  • Peserta mohon melihat Kode Lokasi tes untuk Nomor Peserta masing - masing pada tabel dibawah, untuk mempermudah mengetahui lokasi pada tempat Tes Kemampuan Akademik.
  • Peserta sudah membawa semua perlengkapan yang harus dibawa
  • Nomor peserta tertulis pada kartu peserta diatas foto peserta dan Bukan Nomor Pendaftaran
Kode Lokasi Tes
Kode LokasiNo. Peserta
R1100001 s/d 100020
R2100021 s/d 100040
R3100041 s/d 100060
R4100061 s/d 100080
R5100081 s/d 100100
R6100101 s/d 100120
R7100121 s/d 100140
R8100141 s/d 100160
R9100161 s/d 100180
R10100181 s/d 100200
R11100201 s/d 100220
R12100221 s/d 100240
R13100241 s/d 100260
R14100261 s/d 100280
R15100281 s/d 100300
R16100301 s/d 100320
R17100321 s/d 100340
R18100341 s/d 100360
R19100361 s/d 100380
R20100381 s/d 100400
R21100401 s/d 100420
R22100421 s/d 100440
R23100441 s/d 100460
R24100461 s/d 100480
R25100481 s/d 100500
R26100501 s/d 100520
R27100521 s/d 100540
R28100541 s/d 100560
R29100561 s/d 100580
R30100581 s/d 100600
R31100601 s/d 100620
R32100621 s/d 100640
R33100641 s/d 100660
R34100661 s/d 100680
R35100681 s/d 100700
R36100701 s/d 100720
R37100721 s/d 100740
R38100741 s/d 100760
R39100761 s/d 100780
R40100781 s/d 100800

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS