My Shoulmate, “Mya”


“Pagi Mya....” ucapku pada sahabatku, ucapan itu hampir setiap pagi ku ucapkan.
“Pagi juga... Eh iya, udah ngerjaen PR kimia hal : 43, lom?”
“Kimia yach? Udak koq... low qm?” tanyaku.
“Udah juga... Ehmm.... qt cocokin yuck?”.. ajak Mya.
Kemudian kami pun saling mencocokan jawaban dari nomor ke nomor.

Itulah sepenggal aktivitas yang sering kami lakukan setiap pagi, saat kami bertemu dikelas. Hampir setiap anak iri pada kedekatan kami. Ada yang bilang, kami tuch ‘Lesbian lah’, ‘Sahabat Karib’, ‘Sehati’, Sejantung’, dan masih banyak lagi. Setiap hari, setiap waktu, bahkan setiap detik kami selalu berbagi, berbagi suka maupun duka. Namun pagi ini semuanya berbeda . . . . .

“Pagi Mya...” ucapku. Tak ada suara yang menjawabku.
“Mya koq diem? Ada apa? Kamu sakit yach?” tanyaku dengan perasaan khawatir.
“Eh.. maaf, aku tadi nggak denger. Ngga koq, aku nggak sakit. Aku nggak apa-apa. Tenang ja Jenk...” jawab Mya dengan sedikit gugup.
“Bener????” tanyaku ragu.
Dia hanya membalasku dengan senyuman. Namun aku tahu, senyum Mya merupakan simbol bahwa ia tidak apa-apa. Dan senyuman Mya selalu buatku tenang, damai dan nyaman.

“Ya udah kalau gitu. Oia kata kakak kelas, ntar qt pulang pagi loch..!! Ehm... qt jalan yuck?.. kan udah lama nggak jalan bareng?” tanyaku merayu.
“Tya, 2 hari yang lalu, qt kan udah jalan ke mal. Masa’ ntar harus jalan lagi?” jawabnya pelan namun tegas.

“Ah Mya kq gitu sich?kan mumpung ada kesempatan?mau yach? Pleasee...!!!” ucapku sambil memohon.
“Sorry... kali ini aku bener-bener nggak bisa. Maafin aku Tya.” Ujarnya dengan wajah pucat.
“Mya, qm sakit??? Nggak biasanya qm seperti ini? Kamu sakit yach??? Wajah qm pucat bangetzz?” tanyaku.
Aku sangat khawatir dengan Mya, shoulmateku.
“Aduh Tya... aku tadikan udah bilang,low aku nggak apa-apa, aku nggak sakit n’ aku nggak suka low qm tanya itu lagi.Oke..!!” jawab Mya, kethus.

Kemudian ia pergi meninggalkan aku. Meninggalkan aku dengan sejuta tanda tanya besar dalam benakku. Aku tak mampu berkata – kata, bibirku seakan – akan terkunci rapat. Aku masih tak percaya. “Mya”, sahabatk, tega berkata sekasar itu padaku. Aku tak percaya, sungguh sangat tak percaya.

Pelajaran demi pelajaran terlewatkan tanpa ada sedikitpun kata yang terucap ataupun seulas senyum yang sering Mya berikan untukku. Hari ini aku sangat kecewa pada Mya. Sangan kecewa.Namun keesokan harinya, aku tak kuasa memendam rasa ini berlarut – larut, akhirnya kuputuskan untuk menghubungi Mya. Kuraih Hp-ku, ku telepon dia. Namun yang ku dengar hanya suara operator. Hp Mya nggak aktif. Perasaanku semakin kacau, tak katuan.

“Ada Mya masih marah sama aku?” Gimana nich??? Ehm. . . apa aku kerumahnya saja?” kataku dalam hati. Akhirnya kuputuskan kerumah Mya, sahabatku.
Dengan sejuta pertanyaan yang masih berkecamuk di pikiranku, ku tancap gas dengan berkecepatan maksimum. Yang ada di pikiranku hanya “Mya”. Akhirnya kutemukan alamat rumah Mya. Agak susah sich, karna ini adalah pertama kalinya aku ke rumah Mya. Meskipun aku masih ingat benar janjiku pada Mya untuk tidak akan pernah ke rumahnya meski apapun yang terjadi. Ku langkahkan kaki secara perlahan namun pasti.

“Assalamu’alaikum. . . . . “ ucapku.
Namun, hening. . .
Ku ucapkan lagi, “assalamu’alaikum. . . “ tak ada perubahan.
“Assalamu’alaikum. . . . “ tetap saja.
Ku ulang hingga berkali – kali, namun tetap saja, ‘Hening’. Lalu ku putuskan untuk kembali, namun ketika baru saja beberapa langkah ku berjalan, tiba – tiba . . .
“Maaf nenk, enenk ini temennya Mya??” tanya seorang wanita paruh baya.
“Iya bu, Ibu, Ibunya Mya??” tanyaku kemudian.
“Oh bukan nenk, saya ibu kstnya Mya, tapi Mya udah ibu anggap kaya’ anak sendiri nenk. Maaf nenk, ibu harus pergi. O iya nenk, ibu sampai lupa, Mya nitipin surat buat nenk sebelum ia pergi. “ kata ibu itu dengan wajah sayu seolah ingin menangis.
Lalu ibu itu memberikan surat tsb. Kepadaku. Aku tak sempat bertanya lebih dalam lagi, karna rasa penasaranku dengan isi surat itu lebih besar. Dengan berjuta – juta pertanyaan, akupun pulang dan berharap segera menemukan semua jawaban di dalam surat beramplop biru muda.

Sesampainya di kamarku, ku rebahkan tubuh lemasku dan ku baca surat biru muda itu dengan rasa penasaran yang menggebu – gebu.



Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Tya sahabatku. . . .
Tya, aku yakin dan bahkan sangan yakin bahwa kamu pasti akan mencariku di alamat yang pernah aku berikan padamu. Trima kasih Tya, karna kamu mau menjadi sahabatku. Menjadi pelipur lara di saat sakitku, menjadi penerang dalam gelapnya hidupku, menjadi penyejuk dalam dahagaku.

Tya, maafin aku atas apa yang telah aku lakukan padamu kemarin. Aku telah membuat kamu kecewa dan sakit hati. Maafin aku Tya, maafin aku. Tya. . . aku merasa bahwa aku tak pantas menjadi sahabatmu. Aku pendusta Tya, aku pembohong.. . . . . Tya . . aku tak sebaik yang kau kira slama ini

Andai saja hari itu tak terjadi, mungkin saat ini, aku masih bisa bersama dengan kedua orang tuaku dan adikku. Tya , semalam aku sendiri, aku melawan segala kenyataan hidup ini sendiri. Tanpamu, Tya. Namun apa dayaku, aku hanyalah seorang gadis yang lemah, yang tak kuasa menentang takdir yang telah di gariskan oleh Tuhan untukku.

Tya. . . . jika kamu ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padaku, sekarang juga pergilah ke jalan Anggrek no. 147, aku menunggumu di sana.




Dariku, sahabatmu,




Mya



Setelah membacanya, aku langsung menuju alamat yang tertulis di sana. Namun sesampainya disana, yang kulihat hanya 4 buah gundukan tanah merah yang satu di antaranya masih baru. Di atasnya tertuliskan nama ke dua orang tua Mya, adiknya dan. . . . . “MYA”. Aku tak percaya dengan semua ini. Tanpa ku sadari, tubuhku melemas dan akupun tak sadarkan diri.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar